Sentuhan

 

Almarhum bapak mertua pernah ngendika, “Bocah kuwi kudu mambu tangan, kareben tekan dewasa atine gampang direngkuh (Jw: anak harus sering dipeluk, agar kelak hatinya mudah disentuh).” Nasihat ini terasa bertentangan dengan kelaziman. Pendapat umum bilang bahwa anak yang “bau tangan” akan cenderung kurang mandiri, manja, tergantung dengan orang tua.
Sejak kami berdua sepakat pacaran, sentuhan menjadi satu kebiasaan. Jalan bergandengan atau rangkulan, duduk maunya dempetan, boncengan motor kata pastor kaya full body press (istilah karoseri mobil yang baru muncul tahun 1985-an). Konon seperti amplop dan perangko, lengket nempel terus sebelum jatuh ke tangan filatelis.
Rupanya sentuhan memang punya daya magic. Di saat dik Ning marah-marah entah karena aku atau penyebab lain, yang kulakukan cukup memeluknya. Kadang badan harus siap jadi sansak, yang penting peluk terus jangan dilepaskan. Dijamin ngak perlu lama, sebentar kemudian marahnya mereda …. bukan berarti selesai. Yang penting setelah itu bisa ngobrol menyelesaikan persoalannya.
Pernah suatu ketika salah satu diantara kami marah, entah siapa ….lupa aku, dan langsung pergi meninggalkan yang lain. Bisa diduga akibatnya pikiran masing-masing berkembang liar bikin analisa subyektif, bara kecil itu dikipasi hati dengki menyala berkobar. Bersyukur kami berdua punya jurus andalan lain. Dalam kondisi separah apapun pantang bilang …. bubaran. Dua hari tidak ketemuan, aku sadar lebih baik bicara, daripada marah disimpan sendiri. Saat ketemu seperti biasa jurus peluk kupakai untuk menyiram api itu agar redup. Didiemin pada awalnya itu resiko, namun setelahnya kami diskusi pokok soalnya.
Berpuluh atau berates kali kami menerapkan jurus sentuhan sehingga menyelamatkan masa 8 tahun pacaran. Setelah menikah sampai hari ini pun jurus itu terbukti ampuh. Kemarahan luruh saat menjelang tidur. Senggolan, sentuhan atau pelukan meski dari belakang membuka pintu komunikasi yang sempat ngeblok. Biasanya setelah itu diakhir dengan saat terindah …. saling memaafkan. Habis memaafkan ya tidur hehehe….
Kembali ke ajaran almarhum bapak mertua, kebiasaan sentuhan kami berdua menurun ke anak-anak. Sejak kecil mereka terbiasa dengan sentuhan, rangkulan dan pelukan kami orang tuanya. Benarlah pula hati mereka selalu terbuka. Ketika anak pertama sedang kuliah di Bali, atau magang di Jepang, dan anak kedua menekuni hari-hari belajar di Jogja ….selalu ada saat mereka kontak kami berdua untuk ngobrol berlama-lama. Entah cerita tentang teman, gebetan, ngrasani guru atau dosen, kegiatan di sekolah, patah hati atau sedang jatuh cinta, apapun …. ngak penting topiknya, yang utama kami saling mengirimkan sentuhan jarak jauh.
Spouse

One thought on “Sentuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s