Love is Giving?

Oleh: Nining

Kalimat itu diungkapkan oleh salah satu pembicara dalam kursus perkawinan di Gereja Kathedral Jakarta 21 tahun lalu. Kemudian itu menjadi inspirasi kita untuk dibuat menjadi semacam pin kecil sebagai gif kepada para tamu yang menghadiri pernikahan kami.
Jadilah pin hijau sederhana dengan gambar 2 merpati, kata “Love is giving” menjadi “mantra” dalam hidup perkawinan kami
Kami berfikir, bahwa kata-kata itu mengandung makna yang mulia dan membahagiakan. Kalimat itu menginspirasi kamiuntuk saling memberi cinta yang dimanifestasikan dalam bentuk memberi perhatian, memberi materi, memberi waktu, memberi semuanya lebih banyak kepada yang lain…pokokmen apa saja dilakukan agar lebih banyak memberi daripada menerima
Ketika melihat TV tentang penderita alzheimer yang makin lama makin hilang orientasinya bahkan sampai tidak ingat lagi dengan pasangannya, aku bilang ke mas Nug “Suatu saat kalau itu terjadi pada diriku, masukkan saja aku ke panti jompo…dan kau lanjutkan hidupmu”
Eeehh…dianya nggak mau kalah, sambil memelukku dia bilang “Nggak bisa Sayang…kamu tidak bisa mengatur bagaimana caraku mengungkapkan cinta”
Yahhh…ternyata…kalimat “love is giving” itu membuat kami saling “berlomba” memberi lebih banyak
Aku mulai berhitung…
Ketika mas Nug banyak memberiku perhatian, aku mulai mikir – Waahh…punya bojo kok baik banget yaaahh…kesannya aku ini istri manja…apa nih yang musti kulakukan untuk membalas perhatiannya itu?
Begitu juga dia…ketika aku memberi kontribusi lebih banyak dalam keluarga, dia akan merasa “kalah” dan memintaku mengerem diri dengan alasan supaya bersenang2 saja
(sssttt…padahal karena sebagai laki-laki, dia ingin terlihat lebih hebat…*hehehe)
Aaaahhh…sungguh kehidupan berkeluarga yang melelahkan
Kami ini kok jadi kayak orang dagang aja…hidupnya transaksional…
Kamu ngasih apa… Aku berkontribusi apa….
Ternyata … # memberi itu juga sama saja dengan menerima#
sama-sama orientasinya ke EGO…ke DIRI SENDIRI
Berlomba memberikan cinta, itu sama saja dengan menuntut diberi cinta, karena ujungnya juga kepuasan diri, ego, kenyamanan, bahkan kesombongan karena sudah lebih hebat dari pasangan.
Makin kesini, makin kami sadari…bukan itu yang kami cari
Dalam semua pengalaman hidup yang kami jalani, semakin kami temukan bahwa …
LOVE …
is not about me
is not about you
is not about our children too
is about how we find God in togetherness
Ketika aku menemukan Tuhan di kejatuhanmu…that is love
Ketika kamu melihat Tuhan di sakitku…that is love
Ketika kita mendengar Tuhan saat kaya maupun miskin………………………………… saat punya bisnis maupun saat bisnis sedang seret……………………………………saat kecemerlangan karir maupun saat keterpurukan karir…………………………saat keberhasilan maupun kegagalan anak-anak kita…………………………………… that is LOVE….
LOVE IS (NOT) GIVING… but UNCONDITIONAL
Spouse

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s