Outsourcing Kolak

Bulan puasa Ramadhan 1439 H di tahun 2018 kali ini kembali kolak menjadi menu yang sering tampil di rumah. Meski kami tidak puasa, namun latah ikut larut menikmati kolak di saat saudara sebangsa berbuka tentu sah sah saja. Itung-itung kontribusi kelancaran perekonomian bu Nah penjual kolak di kompleks.
Satu kali iseng pingin masak kolak sendiri namun malah dapat kejutan dari tukang sayur langganan katanya : 1 buah pisang tanduk @ Rp 6.000, 1 kotak santan cair @ Rp 3.000 ….. naaah udah Rp 9.000 padahal belum belanja ubi, kolang-kaling, gula jawa, kayu manis, cengkeh, dll. Apalagi kalau menghitung gas yang terpakai, tenaga & waktu. Pun setelah mateng dan menikmati kolak masih harus mikir beresin dapur, nyuci panci, dll.
Outsourcing kolak akhirnya menjadi pilihan paling bagus sore itu dibanding Do It Yourself, masak sendiri. Semangkuk kolak bu Nah seharga Rp 5.000 sudah komplit isinya. Makan berdua cukup dengan selembar Rp 10.000 plus kesempatan ngabuburit silaturahmi dengan tetangga di bulan yang penuh berkat.
Sudah siap kolak anda sore ini? Kalau belum ayoook jajan bareng kami.

 

DIY

Racun Tubuh

Adalah pak Anton Porat yang menggunakan istilah yang bagiku kurang lazim itu. Sengaja kata “racun” dipilih untuk memberikan pemahaman dan menanamkan lebih kuat dalam diri  para pasiennya bahwa jenis makanan tertentu berakibat merugikan tubuh mereka.
Ketertarikan kami pada pelayanan pak Anton Porat diawali sharing seorang teman baik yang terlihat lebih sehat dengan menjaga asupan makanan. Maka ketika tiba jadwal pelayanan pak Anton di Jakarta, teman tersebut info lewat WA ke kami berdua. Dan hari Sabtu, 10 Maret 2018 siang kami meluncur ke daerah Sunter. Sebuah rumah besar di dekat Danau Sunter ternyata tak mampu menampung minat orang untuk mengikuti Bimbingan Hidup Sehat. Taksiranku hadir sekitar 500 orang saat itu dengan berdiri atau duduk di setiap jengkal lantai. Keberagaman etnis, agama, ekonomi, kesehatan, dll terlihat jelas dari atribut ataupun fisik khalayak yang hadir. Pasien lama yang berkenan sharing kesembuhan sama beragamnya. Namun semua disatukan oleh niat mensyukuri hidup sehat sebagai anugerah rahmat dari Tuhan.
Secara ringkas dalam pertemuan sekitar 4-5 jam itu peserta diajak menyadari bahwa tubuh setiap orang unik, bukanlah seperti mesin yang satu jenis dan serba sama persis. Metabolisme tubuh kita berbeda, kebutuhan setiap orang juga berbeda. Itulah mengapa reaksi tubuh bisa berbeda untuk satu jenis (bahan) makanan yang sama. Maka penting mengenali bahan makanan mana yang diperlukan tubuh masing-masing orang, dan menghindari bahan makanan yang justru akan merugikan. Dampak dari Racun Tubuh bisa berupa alergi, kelainan, atau bahkan sakit penyakit sampai yang paling parah sekalipun. Sebenarnya tubuh telah dan selalu mengirim sinyal reaksi saat kita menelan bahan makanan tertentu. Butuh kepekaan mengenal diri (self awareness) agar kita bisa menangkap sinyal itu. Namun banyak kali kita abai, simptom yang muncul selalu dianggap kelainan, dan ditekan dengan menelan obat-obatan.
Pak Anton Porat dari Kupang mendapat anugerah untuk membantu para pasien yang ingin hidup lebih sehat dan selaras dengan keunikan metabolisme tubuhnya. Saat kami datang dan bersalaman, langsung beliau mengucapkan beberapa jenis bahan makanan yang merupakan Racun Tubuh bagi kami. Dengan sigap petugas di kiri kanannya mencatat di secarik kertas dan memberikan kepada kami. Jadilah daftar di sebelah kiri untukku dan di sebelah kanan untuk isteriku.
Sebagai contoh telur (ayam, bebek, burung, penyu, dll) ternyata berdampak merugikan tubuhku. Demikian halnya makanan yang mengandung telur harus kuhindari seperti roti, biscuit, es krim, coklat, martabak, dll. Sebagai penggemar sayur dan buah akupun tidak lagi boleh melirik oseng bunga & daun pepaya, serta menjauhi makanan favorit yang mengandung kacang tanah semisal karedok, pecel, gado-gado, rujak, dll.
Aku bersyukur punya isteri sekaligus chef handal yang telah berhasil membuat biscuit tanpa telur dan mentega (dia pantang sapi & turunannya), dan menyiapkan bumbu pecel dengan kacang mede. Kami bersiap diri berjalan berdua menapaki waktu senja dengan Hidup Sehat dan tetap yummmmyyyyy…….

 

Life

Keyakinan, Kesabaran & Saling Percaya

 

Pekerjaan merapikan barang lama yang menumpuk dan nyaris tak pernah disentuh terkadang menyita waktu yang terduga bakalan berapa lama. Maunya sebentar, tapi saat dipanggil pasangan bisa sebentar, dua bentar, tiga bentar, atau malah bentar-bentaaarrrr ….. Niat membuang tak selalu mudah dilaksanakan. Terlebih kalau benda tersebut memiliki memori yang kental mendalam. Dibuang sayang, akhirnya disimpan, tepatnya pindah tempat …. karena saat mencari lagi lebih banyak lupa terakhir ditaruh dimana.
Selembar foto gadis ayu kenes gemesin ini terselip di antara dokumen keluarga. Saat anak-anak kecil dulu, bundle tersebut sering dibuka entah untuk melengkapi formulir pendaftaran, atau Komuni Pertama, pelajaran Krisma, Putra Altar, buka polis asuransi atau urusan lain. Ketika sudah punya printer scanner, semua softcopy sudah tersimpan rapi di satu folder. Pilih file yang dibutuhkan, pencet tombol print, selesai sudah. Bundel dokumen ini lebih sering duduk disudut rak buku.
Eeeehhhh ….. malah ngelantur. Balik ke foto gadis cantik yang dikirim pacarku dari Jogja ketika aku sudah mengelana di Jakarta. Di belakang tertera tulisan tangannya, yang bikin hatiku mak nyes saat membacanya …. adem, bukan saja pengobat rindu, tapi penyemangat saat lesu, penghibur saat mendung kelabu (kok mirip payung??), teman tertawa di saat bahagia. Komplit wis….
Sekitar tahun 1992 HP masih impian orang kebanyakan, melihat aja belum. Komunikasi via telpon harus punya modal buat ngobrol di wartel, atau ijin terima di rumah teman. Paling sebulan sekali, ngak bisa keseringan karena gaji karyawan muda bisa kekeringan. So LDR long distance relationship dibina dengan saling berkirim surat dan foto. Menanti surat balasan, punya keasyikan sendiri butuh keyakinan dan kesabaran. Kadang saat kesabaran terkikis menipis, mending nulis duluan surat berikutnya, plus catatan : bales ya suratku yang ini ….
Janjian telpon menjadi salah satu point yang perlu ditulis di surat. Di hari yang ditentukan, aku keluar rumah, naik metromini jam 20.30 wib ke warnet. Ngejar jam 21.00 wib saat dimulainya tariff 50% telpon SLJJ. Jadi dengan budget yang ada bisa lebih puas ngomongnya. Sekali dua terjadi juga, kitanya di wartel udah masuk kamar bicara, saat nelpon si dia ngak di samping pesawat. Keburu giliran disundul antrean pelanggan berikutnya…… Sedikit kecewa wajar, namun tertutup oleh rasa saling percaya bahwa si dia pasti menunggu giliran telpon berikutnya. Naah yang berikutnya ini sering tak terduga, bisa-bisa menjelang tengah malam baru kebagian lagi. Sapaan ….halloo sayang ….. dari sisi sebelah sana, cukuplah. Membuat semua penantian tadi tak ada artinya …. ngak penting membahas kenapa, mending melepas rindu cekikikan berdua.
Gadget yang memungkinkan semuanya serba instan di jaman now, tak ayal mereduksi nilai-nilai keyakinan, kesabaran dan saling percaya. Miscall yang tidak dijawab bakal disambung dengan SMS, WA, telegram, line, dll …… Menurutku bukan karena kawatir kamunya kenapa, tetapi lebih ego, eeehhh gue dicuekin…..
Pengalaman kami untuk mengasah kepekaan dan menumbuhkan keyakinan, kesabaran dan saling percaya kuncinya adalah kedekatan relasi berdua. Karenanya kami sepakat dan terus berusaha selalu ada saat kami berdua mematikan semua gadget …. untuk merasakan hadirmu dalam diriku, dan hadirku dalam dirimu.
(sambil nunggu istri bikin mie rebus)
Spouse

Sentuhan

 

Almarhum bapak mertua pernah ngendika, “Bocah kuwi kudu mambu tangan, kareben tekan dewasa atine gampang direngkuh (Jw: anak harus sering dipeluk, agar kelak hatinya mudah disentuh).” Nasihat ini terasa bertentangan dengan kelaziman. Pendapat umum bilang bahwa anak yang “bau tangan” akan cenderung kurang mandiri, manja, tergantung dengan orang tua.
Sejak kami berdua sepakat pacaran, sentuhan menjadi satu kebiasaan. Jalan bergandengan atau rangkulan, duduk maunya dempetan, boncengan motor kata pastor kaya full body press (istilah karoseri mobil yang baru muncul tahun 1985-an). Konon seperti amplop dan perangko, lengket nempel terus sebelum jatuh ke tangan filatelis.
Rupanya sentuhan memang punya daya magic. Di saat dik Ning marah-marah entah karena aku atau penyebab lain, yang kulakukan cukup memeluknya. Kadang badan harus siap jadi sansak, yang penting peluk terus jangan dilepaskan. Dijamin ngak perlu lama, sebentar kemudian marahnya mereda …. bukan berarti selesai. Yang penting setelah itu bisa ngobrol menyelesaikan persoalannya.
Pernah suatu ketika salah satu diantara kami marah, entah siapa ….lupa aku, dan langsung pergi meninggalkan yang lain. Bisa diduga akibatnya pikiran masing-masing berkembang liar bikin analisa subyektif, bara kecil itu dikipasi hati dengki menyala berkobar. Bersyukur kami berdua punya jurus andalan lain. Dalam kondisi separah apapun pantang bilang …. bubaran. Dua hari tidak ketemuan, aku sadar lebih baik bicara, daripada marah disimpan sendiri. Saat ketemu seperti biasa jurus peluk kupakai untuk menyiram api itu agar redup. Didiemin pada awalnya itu resiko, namun setelahnya kami diskusi pokok soalnya.
Berpuluh atau berates kali kami menerapkan jurus sentuhan sehingga menyelamatkan masa 8 tahun pacaran. Setelah menikah sampai hari ini pun jurus itu terbukti ampuh. Kemarahan luruh saat menjelang tidur. Senggolan, sentuhan atau pelukan meski dari belakang membuka pintu komunikasi yang sempat ngeblok. Biasanya setelah itu diakhir dengan saat terindah …. saling memaafkan. Habis memaafkan ya tidur hehehe….
Kembali ke ajaran almarhum bapak mertua, kebiasaan sentuhan kami berdua menurun ke anak-anak. Sejak kecil mereka terbiasa dengan sentuhan, rangkulan dan pelukan kami orang tuanya. Benarlah pula hati mereka selalu terbuka. Ketika anak pertama sedang kuliah di Bali, atau magang di Jepang, dan anak kedua menekuni hari-hari belajar di Jogja ….selalu ada saat mereka kontak kami berdua untuk ngobrol berlama-lama. Entah cerita tentang teman, gebetan, ngrasani guru atau dosen, kegiatan di sekolah, patah hati atau sedang jatuh cinta, apapun …. ngak penting topiknya, yang utama kami saling mengirimkan sentuhan jarak jauh.
Spouse