KENIKMATAN YANG BERBEDA

Life, Opinion, Spouse

Ada banyak cara untuk menikmati kebersamaan dalam hubungan suami istri. Bagi kami berdua, salah satunya adalah ritual minum teh nasgithel (teh oplosan dari berbagai merk teh, yang kuracik sedemikian rupa supaya terasa sepetnya, pahitnya dan tentu saja manisnya :-). Dulu kami menggunakan gula pasir sebagai pemanis….tetapi sekarang kami memakai gula aren dengan pertimbangan indeks glikemiksnya lebih rendah daripada gula pasir

Meskipun sama-sama nyruput teh dengan gula aren (gula jawa), tapi aku dan mas Nug berbeda cara mengkonsumsinya. Kalau aku lebih suka menggigit gula aren itu sedikit trus nyruput teh seteguk…terus demikian sedikit demi sedikit sampai lama-lama baik gula maupun tehnya habis. Aku merasa, cara ini lebih nikmat, karena aku bisa merasakan manisnya gula, sekaligus pahit dan sepatnya teh di lidahku sebelum mereka tercampur di tenggorokan

Kalau mas Nug, lebih suka memasukkan sepotong gula aren dan mengaduknya sampai hancur larut dalam teh tersebut, baru dia minum seteguk-seteguk. Menurutnya, rasanya jadi lebih blanded dan tidak tajam

Sepintas tidak ada yang aneh dari cara kami itu, hanya sekedar beda cara menikmati secangkir teh saja. Tetapi kalau direfleksikan lebih dalam, sebenarnya cara kami menikmati teh tsb senada dengan cara kami menyikapi perbedaan karakter manusia yang berhubungan dengan kami

Buatku, tidak masalah menikmati karakter2 yang tajam dan berbeda-beda dari masing-masing individu…mungkin ada yang nylekit, ada yang keras, ada yang lembut, halus…buatku enjoy saja menerima mereka tanpa harus mengubahnya untuk mendapatkan suatu kesepakatan. Sedangkan bagi mas Nug…Doi lebih suka mengharmonikan semua perbedaan tersebut…menyelaraskannya…mendamaikannya sebelum bicara tentang kesepakatan

Itulah “the way of life” masing-masing…tidak ada yang salah, tidak ada yang benar…nikmati aja. Kalau kata Mas Nug…”Yang penting tetep tidur bersama” hahahahaha

nining nugroho kuning kupu

Racun Tubuh

Adalah pak Anton Porat yang menggunakan istilah yang bagiku kurang lazim itu. Sengaja kata “racun” dipilih untuk memberikan pemahaman dan menanamkan lebih kuat dalam diri  para pasiennya bahwa jenis makanan tertentu berakibat merugikan tubuh mereka.
Ketertarikan kami pada pelayanan pak Anton Porat diawali sharing seorang teman baik yang terlihat lebih sehat dengan menjaga asupan makanan. Maka ketika tiba jadwal pelayanan pak Anton di Jakarta, teman tersebut info lewat WA ke kami berdua. Dan hari Sabtu, 10 Maret 2018 siang kami meluncur ke daerah Sunter. Sebuah rumah besar di dekat Danau Sunter ternyata tak mampu menampung minat orang untuk mengikuti Bimbingan Hidup Sehat. Taksiranku hadir sekitar 500 orang saat itu dengan berdiri atau duduk di setiap jengkal lantai. Keberagaman etnis, agama, ekonomi, kesehatan, dll terlihat jelas dari atribut ataupun fisik khalayak yang hadir. Pasien lama yang berkenan sharing kesembuhan sama beragamnya. Namun semua disatukan oleh niat mensyukuri hidup sehat sebagai anugerah rahmat dari Tuhan.
Secara ringkas dalam pertemuan sekitar 4-5 jam itu peserta diajak menyadari bahwa tubuh setiap orang unik, bukanlah seperti mesin yang satu jenis dan serba sama persis. Metabolisme tubuh kita berbeda, kebutuhan setiap orang juga berbeda. Itulah mengapa reaksi tubuh bisa berbeda untuk satu jenis (bahan) makanan yang sama. Maka penting mengenali bahan makanan mana yang diperlukan tubuh masing-masing orang, dan menghindari bahan makanan yang justru akan merugikan. Dampak dari Racun Tubuh bisa berupa alergi, kelainan, atau bahkan sakit penyakit sampai yang paling parah sekalipun. Sebenarnya tubuh telah dan selalu mengirim sinyal reaksi saat kita menelan bahan makanan tertentu. Butuh kepekaan mengenal diri (self awareness) agar kita bisa menangkap sinyal itu. Namun banyak kali kita abai, simptom yang muncul selalu dianggap kelainan, dan ditekan dengan menelan obat-obatan.
Pak Anton Porat dari Kupang mendapat anugerah untuk membantu para pasien yang ingin hidup lebih sehat dan selaras dengan keunikan metabolisme tubuhnya. Saat kami datang dan bersalaman, langsung beliau mengucapkan beberapa jenis bahan makanan yang merupakan Racun Tubuh bagi kami. Dengan sigap petugas di kiri kanannya mencatat di secarik kertas dan memberikan kepada kami. Jadilah daftar di sebelah kiri untukku dan di sebelah kanan untuk isteriku.
Sebagai contoh telur (ayam, bebek, burung, penyu, dll) ternyata berdampak merugikan tubuhku. Demikian halnya makanan yang mengandung telur harus kuhindari seperti roti, biscuit, es krim, coklat, martabak, dll. Sebagai penggemar sayur dan buah akupun tidak lagi boleh melirik oseng bunga & daun pepaya, serta menjauhi makanan favorit yang mengandung kacang tanah semisal karedok, pecel, gado-gado, rujak, dll.
Aku bersyukur punya isteri sekaligus chef handal yang telah berhasil membuat biscuit tanpa telur dan mentega (dia pantang sapi & turunannya), dan menyiapkan bumbu pecel dengan kacang mede. Kami bersiap diri berjalan berdua menapaki waktu senja dengan Hidup Sehat dan tetap yummmmyyyyy…….

 

Life