KENIKMATAN YANG BERBEDA

Life, Opinion, Spouse

Ada banyak cara untuk menikmati kebersamaan dalam hubungan suami istri. Bagi kami berdua, salah satunya adalah ritual minum teh nasgithel (teh oplosan dari berbagai merk teh, yang kuracik sedemikian rupa supaya terasa sepetnya, pahitnya dan tentu saja manisnya :-). Dulu kami menggunakan gula pasir sebagai pemanis….tetapi sekarang kami memakai gula aren dengan pertimbangan indeks glikemiksnya lebih rendah daripada gula pasir

Meskipun sama-sama nyruput teh dengan gula aren (gula jawa), tapi aku dan mas Nug berbeda cara mengkonsumsinya. Kalau aku lebih suka menggigit gula aren itu sedikit trus nyruput teh seteguk…terus demikian sedikit demi sedikit sampai lama-lama baik gula maupun tehnya habis. Aku merasa, cara ini lebih nikmat, karena aku bisa merasakan manisnya gula, sekaligus pahit dan sepatnya teh di lidahku sebelum mereka tercampur di tenggorokan

Kalau mas Nug, lebih suka memasukkan sepotong gula aren dan mengaduknya sampai hancur larut dalam teh tersebut, baru dia minum seteguk-seteguk. Menurutnya, rasanya jadi lebih blanded dan tidak tajam

Sepintas tidak ada yang aneh dari cara kami itu, hanya sekedar beda cara menikmati secangkir teh saja. Tetapi kalau direfleksikan lebih dalam, sebenarnya cara kami menikmati teh tsb senada dengan cara kami menyikapi perbedaan karakter manusia yang berhubungan dengan kami

Buatku, tidak masalah menikmati karakter2 yang tajam dan berbeda-beda dari masing-masing individu…mungkin ada yang nylekit, ada yang keras, ada yang lembut, halus…buatku enjoy saja menerima mereka tanpa harus mengubahnya untuk mendapatkan suatu kesepakatan. Sedangkan bagi mas Nug…Doi lebih suka mengharmonikan semua perbedaan tersebut…menyelaraskannya…mendamaikannya sebelum bicara tentang kesepakatan

Itulah “the way of life” masing-masing…tidak ada yang salah, tidak ada yang benar…nikmati aja. Kalau kata Mas Nug…”Yang penting tetep tidur bersama” hahahahaha

nining nugroho kuning kupu

Keyakinan, Kesabaran & Saling Percaya

 

Pekerjaan merapikan barang lama yang menumpuk dan nyaris tak pernah disentuh terkadang menyita waktu yang terduga bakalan berapa lama. Maunya sebentar, tapi saat dipanggil pasangan bisa sebentar, dua bentar, tiga bentar, atau malah bentar-bentaaarrrr ….. Niat membuang tak selalu mudah dilaksanakan. Terlebih kalau benda tersebut memiliki memori yang kental mendalam. Dibuang sayang, akhirnya disimpan, tepatnya pindah tempat …. karena saat mencari lagi lebih banyak lupa terakhir ditaruh dimana.
Selembar foto gadis ayu kenes gemesin ini terselip di antara dokumen keluarga. Saat anak-anak kecil dulu, bundle tersebut sering dibuka entah untuk melengkapi formulir pendaftaran, atau Komuni Pertama, pelajaran Krisma, Putra Altar, buka polis asuransi atau urusan lain. Ketika sudah punya printer scanner, semua softcopy sudah tersimpan rapi di satu folder. Pilih file yang dibutuhkan, pencet tombol print, selesai sudah. Bundel dokumen ini lebih sering duduk disudut rak buku.
Eeeehhhh ….. malah ngelantur. Balik ke foto gadis cantik yang dikirim pacarku dari Jogja ketika aku sudah mengelana di Jakarta. Di belakang tertera tulisan tangannya, yang bikin hatiku mak nyes saat membacanya …. adem, bukan saja pengobat rindu, tapi penyemangat saat lesu, penghibur saat mendung kelabu (kok mirip payung??), teman tertawa di saat bahagia. Komplit wis….
Sekitar tahun 1992 HP masih impian orang kebanyakan, melihat aja belum. Komunikasi via telpon harus punya modal buat ngobrol di wartel, atau ijin terima di rumah teman. Paling sebulan sekali, ngak bisa keseringan karena gaji karyawan muda bisa kekeringan. So LDR long distance relationship dibina dengan saling berkirim surat dan foto. Menanti surat balasan, punya keasyikan sendiri butuh keyakinan dan kesabaran. Kadang saat kesabaran terkikis menipis, mending nulis duluan surat berikutnya, plus catatan : bales ya suratku yang ini ….
Janjian telpon menjadi salah satu point yang perlu ditulis di surat. Di hari yang ditentukan, aku keluar rumah, naik metromini jam 20.30 wib ke warnet. Ngejar jam 21.00 wib saat dimulainya tariff 50% telpon SLJJ. Jadi dengan budget yang ada bisa lebih puas ngomongnya. Sekali dua terjadi juga, kitanya di wartel udah masuk kamar bicara, saat nelpon si dia ngak di samping pesawat. Keburu giliran disundul antrean pelanggan berikutnya…… Sedikit kecewa wajar, namun tertutup oleh rasa saling percaya bahwa si dia pasti menunggu giliran telpon berikutnya. Naah yang berikutnya ini sering tak terduga, bisa-bisa menjelang tengah malam baru kebagian lagi. Sapaan ….halloo sayang ….. dari sisi sebelah sana, cukuplah. Membuat semua penantian tadi tak ada artinya …. ngak penting membahas kenapa, mending melepas rindu cekikikan berdua.
Gadget yang memungkinkan semuanya serba instan di jaman now, tak ayal mereduksi nilai-nilai keyakinan, kesabaran dan saling percaya. Miscall yang tidak dijawab bakal disambung dengan SMS, WA, telegram, line, dll …… Menurutku bukan karena kawatir kamunya kenapa, tetapi lebih ego, eeehhh gue dicuekin…..
Pengalaman kami untuk mengasah kepekaan dan menumbuhkan keyakinan, kesabaran dan saling percaya kuncinya adalah kedekatan relasi berdua. Karenanya kami sepakat dan terus berusaha selalu ada saat kami berdua mematikan semua gadget …. untuk merasakan hadirmu dalam diriku, dan hadirku dalam dirimu.
(sambil nunggu istri bikin mie rebus)
Spouse

Love is Giving?

Oleh: Nining

Kalimat itu diungkapkan oleh salah satu pembicara dalam kursus perkawinan di Gereja Kathedral Jakarta 21 tahun lalu. Kemudian itu menjadi inspirasi kita untuk dibuat menjadi semacam pin kecil sebagai gif kepada para tamu yang menghadiri pernikahan kami.
Jadilah pin hijau sederhana dengan gambar 2 merpati, kata “Love is giving” menjadi “mantra” dalam hidup perkawinan kami
Kami berfikir, bahwa kata-kata itu mengandung makna yang mulia dan membahagiakan. Kalimat itu menginspirasi kamiuntuk saling memberi cinta yang dimanifestasikan dalam bentuk memberi perhatian, memberi materi, memberi waktu, memberi semuanya lebih banyak kepada yang lain…pokokmen apa saja dilakukan agar lebih banyak memberi daripada menerima
Ketika melihat TV tentang penderita alzheimer yang makin lama makin hilang orientasinya bahkan sampai tidak ingat lagi dengan pasangannya, aku bilang ke mas Nug “Suatu saat kalau itu terjadi pada diriku, masukkan saja aku ke panti jompo…dan kau lanjutkan hidupmu”
Eeehh…dianya nggak mau kalah, sambil memelukku dia bilang “Nggak bisa Sayang…kamu tidak bisa mengatur bagaimana caraku mengungkapkan cinta”
Yahhh…ternyata…kalimat “love is giving” itu membuat kami saling “berlomba” memberi lebih banyak
Aku mulai berhitung…
Ketika mas Nug banyak memberiku perhatian, aku mulai mikir – Waahh…punya bojo kok baik banget yaaahh…kesannya aku ini istri manja…apa nih yang musti kulakukan untuk membalas perhatiannya itu?
Begitu juga dia…ketika aku memberi kontribusi lebih banyak dalam keluarga, dia akan merasa “kalah” dan memintaku mengerem diri dengan alasan supaya bersenang2 saja
(sssttt…padahal karena sebagai laki-laki, dia ingin terlihat lebih hebat…*hehehe)
Aaaahhh…sungguh kehidupan berkeluarga yang melelahkan
Kami ini kok jadi kayak orang dagang aja…hidupnya transaksional…
Kamu ngasih apa… Aku berkontribusi apa….
Ternyata … # memberi itu juga sama saja dengan menerima#
sama-sama orientasinya ke EGO…ke DIRI SENDIRI
Berlomba memberikan cinta, itu sama saja dengan menuntut diberi cinta, karena ujungnya juga kepuasan diri, ego, kenyamanan, bahkan kesombongan karena sudah lebih hebat dari pasangan.
Makin kesini, makin kami sadari…bukan itu yang kami cari
Dalam semua pengalaman hidup yang kami jalani, semakin kami temukan bahwa …
LOVE …
is not about me
is not about you
is not about our children too
is about how we find God in togetherness
Ketika aku menemukan Tuhan di kejatuhanmu…that is love
Ketika kamu melihat Tuhan di sakitku…that is love
Ketika kita mendengar Tuhan saat kaya maupun miskin………………………………… saat punya bisnis maupun saat bisnis sedang seret……………………………………saat kecemerlangan karir maupun saat keterpurukan karir…………………………saat keberhasilan maupun kegagalan anak-anak kita…………………………………… that is LOVE….
LOVE IS (NOT) GIVING… but UNCONDITIONAL
Spouse

Sentuhan

 

Almarhum bapak mertua pernah ngendika, “Bocah kuwi kudu mambu tangan, kareben tekan dewasa atine gampang direngkuh (Jw: anak harus sering dipeluk, agar kelak hatinya mudah disentuh).” Nasihat ini terasa bertentangan dengan kelaziman. Pendapat umum bilang bahwa anak yang “bau tangan” akan cenderung kurang mandiri, manja, tergantung dengan orang tua.
Sejak kami berdua sepakat pacaran, sentuhan menjadi satu kebiasaan. Jalan bergandengan atau rangkulan, duduk maunya dempetan, boncengan motor kata pastor kaya full body press (istilah karoseri mobil yang baru muncul tahun 1985-an). Konon seperti amplop dan perangko, lengket nempel terus sebelum jatuh ke tangan filatelis.
Rupanya sentuhan memang punya daya magic. Di saat dik Ning marah-marah entah karena aku atau penyebab lain, yang kulakukan cukup memeluknya. Kadang badan harus siap jadi sansak, yang penting peluk terus jangan dilepaskan. Dijamin ngak perlu lama, sebentar kemudian marahnya mereda …. bukan berarti selesai. Yang penting setelah itu bisa ngobrol menyelesaikan persoalannya.
Pernah suatu ketika salah satu diantara kami marah, entah siapa ….lupa aku, dan langsung pergi meninggalkan yang lain. Bisa diduga akibatnya pikiran masing-masing berkembang liar bikin analisa subyektif, bara kecil itu dikipasi hati dengki menyala berkobar. Bersyukur kami berdua punya jurus andalan lain. Dalam kondisi separah apapun pantang bilang …. bubaran. Dua hari tidak ketemuan, aku sadar lebih baik bicara, daripada marah disimpan sendiri. Saat ketemu seperti biasa jurus peluk kupakai untuk menyiram api itu agar redup. Didiemin pada awalnya itu resiko, namun setelahnya kami diskusi pokok soalnya.
Berpuluh atau berates kali kami menerapkan jurus sentuhan sehingga menyelamatkan masa 8 tahun pacaran. Setelah menikah sampai hari ini pun jurus itu terbukti ampuh. Kemarahan luruh saat menjelang tidur. Senggolan, sentuhan atau pelukan meski dari belakang membuka pintu komunikasi yang sempat ngeblok. Biasanya setelah itu diakhir dengan saat terindah …. saling memaafkan. Habis memaafkan ya tidur hehehe….
Kembali ke ajaran almarhum bapak mertua, kebiasaan sentuhan kami berdua menurun ke anak-anak. Sejak kecil mereka terbiasa dengan sentuhan, rangkulan dan pelukan kami orang tuanya. Benarlah pula hati mereka selalu terbuka. Ketika anak pertama sedang kuliah di Bali, atau magang di Jepang, dan anak kedua menekuni hari-hari belajar di Jogja ….selalu ada saat mereka kontak kami berdua untuk ngobrol berlama-lama. Entah cerita tentang teman, gebetan, ngrasani guru atau dosen, kegiatan di sekolah, patah hati atau sedang jatuh cinta, apapun …. ngak penting topiknya, yang utama kami saling mengirimkan sentuhan jarak jauh.
Spouse