Keyakinan, Kesabaran & Saling Percaya

 

Pekerjaan merapikan barang lama yang menumpuk dan nyaris tak pernah disentuh terkadang menyita waktu yang terduga bakalan berapa lama. Maunya sebentar, tapi saat dipanggil pasangan bisa sebentar, dua bentar, tiga bentar, atau malah bentar-bentaaarrrr ….. Niat membuang tak selalu mudah dilaksanakan. Terlebih kalau benda tersebut memiliki memori yang kental mendalam. Dibuang sayang, akhirnya disimpan, tepatnya pindah tempat …. karena saat mencari lagi lebih banyak lupa terakhir ditaruh dimana.
Selembar foto gadis ayu kenes gemesin ini terselip di antara dokumen keluarga. Saat anak-anak kecil dulu, bundle tersebut sering dibuka entah untuk melengkapi formulir pendaftaran, atau Komuni Pertama, pelajaran Krisma, Putra Altar, buka polis asuransi atau urusan lain. Ketika sudah punya printer scanner, semua softcopy sudah tersimpan rapi di satu folder. Pilih file yang dibutuhkan, pencet tombol print, selesai sudah. Bundel dokumen ini lebih sering duduk disudut rak buku.
Eeeehhhh ….. malah ngelantur. Balik ke foto gadis cantik yang dikirim pacarku dari Jogja ketika aku sudah mengelana di Jakarta. Di belakang tertera tulisan tangannya, yang bikin hatiku mak nyes saat membacanya …. adem, bukan saja pengobat rindu, tapi penyemangat saat lesu, penghibur saat mendung kelabu (kok mirip payung??), teman tertawa di saat bahagia. Komplit wis….
Sekitar tahun 1992 HP masih impian orang kebanyakan, melihat aja belum. Komunikasi via telpon harus punya modal buat ngobrol di wartel, atau ijin terima di rumah teman. Paling sebulan sekali, ngak bisa keseringan karena gaji karyawan muda bisa kekeringan. So LDR long distance relationship dibina dengan saling berkirim surat dan foto. Menanti surat balasan, punya keasyikan sendiri butuh keyakinan dan kesabaran. Kadang saat kesabaran terkikis menipis, mending nulis duluan surat berikutnya, plus catatan : bales ya suratku yang ini ….
Janjian telpon menjadi salah satu point yang perlu ditulis di surat. Di hari yang ditentukan, aku keluar rumah, naik metromini jam 20.30 wib ke warnet. Ngejar jam 21.00 wib saat dimulainya tariff 50% telpon SLJJ. Jadi dengan budget yang ada bisa lebih puas ngomongnya. Sekali dua terjadi juga, kitanya di wartel udah masuk kamar bicara, saat nelpon si dia ngak di samping pesawat. Keburu giliran disundul antrean pelanggan berikutnya…… Sedikit kecewa wajar, namun tertutup oleh rasa saling percaya bahwa si dia pasti menunggu giliran telpon berikutnya. Naah yang berikutnya ini sering tak terduga, bisa-bisa menjelang tengah malam baru kebagian lagi. Sapaan ….halloo sayang ….. dari sisi sebelah sana, cukuplah. Membuat semua penantian tadi tak ada artinya …. ngak penting membahas kenapa, mending melepas rindu cekikikan berdua.
Gadget yang memungkinkan semuanya serba instan di jaman now, tak ayal mereduksi nilai-nilai keyakinan, kesabaran dan saling percaya. Miscall yang tidak dijawab bakal disambung dengan SMS, WA, telegram, line, dll …… Menurutku bukan karena kawatir kamunya kenapa, tetapi lebih ego, eeehhh gue dicuekin…..
Pengalaman kami untuk mengasah kepekaan dan menumbuhkan keyakinan, kesabaran dan saling percaya kuncinya adalah kedekatan relasi berdua. Karenanya kami sepakat dan terus berusaha selalu ada saat kami berdua mematikan semua gadget …. untuk merasakan hadirmu dalam diriku, dan hadirku dalam dirimu.
(sambil nunggu istri bikin mie rebus)
Spouse